Guru Cerewet dan Perjuangan Membangun Kesadaran Siswa di Era Digital

Bagikan :

Oleh: Akhmad Fauzi, S.S.,S.Pd., C.PIM
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Purbalingga

KITA tentu pernah melihat polisi lalu lintas yang tak henti-hentinya mengingatkan pengendara. Jangan menerobos lampu merah. Gunakan helm. Kurangi kecepatan. Patuhi rambu-rambu. Hati-hati di jalan. Bagi sebagian orang, mungkin terdengar cerewet. Namun, justru karena terus diingatkan, sesuatu yang semula hanya berupa aturan perlahan dapat berubah menjadi kesadaran.

Orang tidak lagi berhenti karena takut ditilang, tetapi karena memahami bahwa keselamatan jauh lebih penting daripada sekadar menghindari hukuman.

Dari Aturan Menuju Kesadaran
Di situlah kita menemukan pelajaran penting tentang pendidikan. Kesadaran tidak lahir hanya karena seseorang pernah diberi tahu. Kesadaran tumbuh karena terus diingatkan, diberi contoh, dan dibiasakan.

Maka, kalau di jalan raya kita mengenal “polisi cerewet”, di sekolah kita membutuhkan “guru cerewet”. Tentu bukan guru yang setiap hari marah-marah. Bukan pula guru yang gemar mengomel dengan suara keras. Guru cerewet yang dimaksud adalah guru yang tidak pernah bosan mengingatkan kebaikan.

Guru yang melihat sampah berserakan lalu mengingatkan pentingnya kebersihan. Guru yang melihat siswa datang terlambat lalu mengajak mereka memahami arti disiplin. Guru yang melihat perundungan tidak memilih diam. Guru yang mengingatkan siswa agar berhati-hati menggunakan media sosial.

Guru juga harus terus mengajak anak belajar, membaca, berpikir, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab terhadap pilihannya. Sebab, sekolah bukan sekadar tempat menyampaikan pelajaran. Sekolah adalah tempat anak belajar menjadi manusia.

Tantangan Pendidikan di Dunia Digital
Dulu, ketika berbicara tentang perilaku siswa, perhatian kita mungkin tertuju pada hal-hal yang terlihat di sekolah: bolos, berkelahi, membuang sampah sembarangan, tidak memakai seragam dengan rapi, atau tidak mengerjakan tugas.

Hari ini, tantangannya jauh lebih luas. Siswa hidup dalam dunia digital yang tidak pernah benar-benar tidur. Setelah bel pulang berbunyi, mereka masuk ke ruang lain: media sosial, grup percakapan, permainan daring, video pendek, dan berbagai arus informasi yang datang silih berganti.

Di ruang itu, tidak selalu ada guru yang mengawasi. Tidak ada guru yang setiap saat bisa berkata, “Jangan lakukan itu.” Tidak ada orang tua yang setiap detik mengetahui apa yang sedang mereka lihat.

Karena itu, pendidikan hari ini tidak cukup hanya mengajarkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Kita harus membantu siswa membangun kemampuan untuk bertanya kepada dirinya sendiri: “Apakah ini benar?” “Apakah ini baik?” “Apa akibatnya bagi orang lain?” “Kalau sesuatu yang saya lakukan ini tersebar di internet, apakah saya siap bertanggung jawab?”

Inilah kesadaran yang perlu dibangun. Sebab, ketika guru tidak berada di sampingnya, ketika orang tua tidak melihat, ketika tidak ada kamera yang mengawasi, yang diharapkan bekerja adalah kesadaran dari dalam diri siswa.

Aturan Saja Tidak Cukup
Setiap sekolah tentu memiliki tata tertib. Ada aturan, larangan, kewajiban, bahkan konsekuensi bagi pelanggaran. Namun, mengapa masih ada siswa yang melanggar?

Karena aturan dan kesadaran adalah dua hal yang berbeda. Aturan dapat membuat seseorang patuh karena takut mendapatkan sanksi. Tetapi kesadaran membuat seseorang memilih melakukan yang benar meskipun tidak ada yang melihat.

Di sinilah pendidikan karakter menemukan tantangannya. Kita tidak cukup hanya bertanya, “Sudah berapa kali aturan ini disampaikan?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Sudahkah siswa memahami mengapa aturan itu penting bagi dirinya?”

Anak yang membuang sampah perlu memahami bahwa kebersihan bukan sekadar perintah guru. Anak yang mengejek temannya perlu memahami bahwa sebuah candaan bisa menjadi luka bagi orang lain.

Anak yang menyebarkan foto atau komentar tentang temannya perlu memahami bahwa jejak digital dapat memiliki konsekuensi. Anak yang menyontek perlu memahami bahwa masalahnya bukan hanya nilai yang tidak jujur, tetapi kebiasaan mengambil jalan pintas.

Dengan kata lain, tugas guru bukan sekadar membuat siswa taat aturan, tetapi membantu mereka memahami alasan di balik aturan.

Jangan Bosan Mengingatkan
Kesadaran memang tidak dapat dipaksakan dalam satu kali nasihat. Pendidikan yang kita jalani setiap hari adalah proses panjang. Kesadaran perlu dibangun secara terus-menerus melalui penglihatan, pengalaman, pemahaman, dan kebiasaan.

Karena itu, guru tidak boleh cepat menyerah hanya karena nasihat hari ini belum menghasilkan perubahan.

Ketika kelas kotor, guru memberi contoh dengan memungut sampah. Ketika siswa berbicara kasar, guru mengingatkan pentingnya menghormati orang lain. Ketika terjadi perundungan, guru hadir untuk menghentikan sekaligus mengajak siswa memahami dampaknya.

Ketika siswa terlalu larut dalam gawai, guru tidak cukup mengatakan, “Jangan main HP!”

Guru perlu mengajak mereka berpikir: Apa yang kamu dapat dari layar itu? Apa yang kamu korbankan? Apakah kamu masih mampu mengendalikan gawai, atau justru gawai yang mengendalikanmu?

Inilah “cerewet” yang dibutuhkan zaman sekarang. Bukan banyak bicara, melainkan banyak peduli.

Keteladanan Lebih Kuat daripada Nasihat
Ada satu hal yang sering kita lupakan: siswa tidak hanya mendengarkan guru. Mereka juga mengamati guru.

Guru meminta siswa datang tepat waktu, tetapi guru sendiri sering terlambat. Guru meminta siswa tidak bermain gawai ketika pembelajaran, tetapi guru sibuk dengan teleponnya. Guru meminta siswa berbicara sopan, tetapi guru mudah membentak.

Dalam keadaan seperti itu, nasihat kehilangan kekuatannya.

Sebaliknya, ketika guru memberikan contoh nyata, pesan pendidikan menjadi jauh lebih kuat. Guru membuang sampah pada tempatnya. Guru mengakui kesalahan ketika keliru. Guru meminta maaf ketika menyakiti orang lain.

Guru mendengarkan ketika siswa berbicara. Guru menghargai perbedaan pendapat. Guru menunjukkan bahwa belajar tidak pernah berhenti.

Anak-anak mungkin lupa kalimat yang kita ucapkan, tetapi mereka dapat mengingat sikap yang setiap hari mereka lihat.

Nasihat Hari Ini, Bekal di Masa Depan
Ada kalanya guru merasa lelah. “Sudah berkali-kali saya ingatkan.” “Sudah pernah saya jelaskan.” “Kenapa masih diulangi lagi?”

Perasaan seperti itu sangat manusiawi. Namun, bukankah pendidikan memang sebuah proses? Anak-anak kita belum selesai tumbuh. Mereka sedang belajar membedakan yang benar dan yang salah. Mereka sedang belajar mengendalikan diri. Mereka sedang belajar memahami akibat dari keputusan mereka.

Karena itu, ketika hari ini mereka belum berubah, bukan berarti nasihat kita sia-sia. Bisa jadi sebuah nasihat baru menemukan maknanya beberapa tahun kemudian.

Mungkin hari ini seorang siswa menganggap guru terlalu cerewet ketika mengingatkan tentang disiplin. Tetapi kelak, ketika ia memasuki dunia kerja, ia memahami bahwa ketepatan waktu adalah bentuk tanggung jawab.

Mungkin hari ini ia merasa terganggu ketika diingatkan untuk menjaga ucapan di media sosial. Kelak, ia menyadari bahwa tidak semua hal pantas ditulis dan tidak semua hal perlu dibagikan.

Mungkin hari ini ia menganggap guru terlalu banyak mengingatkan untuk belajar. Kelak, ia memahami bahwa kemampuan untuk terus belajar adalah bekal menghadapi dunia yang berubah begitu cepat.

Saat Guru Tidak Lagi Mengawasi
Pada akhirnya, kita tidak mungkin mendampingi siswa sepanjang hidupnya. Ada saatnya mereka lulus. Ada saatnya mereka meninggalkan halaman sekolah. Ada saatnya mereka harus mengambil keputusan sendiri tanpa guru, tanpa orang tua, dan tanpa siapa pun yang mengawasi.

Pada saat itulah pendidikan karakter diuji.

Apakah mereka tetap membuang sampah pada tempatnya ketika tidak ada guru? Apakah mereka tetap jujur ketika tidak ada yang mengetahui? Apakah mereka tetap menghormati orang lain ketika tidak ada yang mengingatkan?

Apakah mereka mampu menahan diri untuk tidak ikut menyebarkan sesuatu yang dapat menyakiti orang lain di media sosial? Apakah mereka tetap mau belajar ketika tidak ada tugas dan tidak ada ujian?

Jika jawabannya “ya”, barangkali saat itulah kita boleh mengatakan bahwa kesadaran mulai tumbuh.

Guru Cerewet Adalah Guru yang Peduli
Sebab, tujuan pendidikan bukan membuat anak patuh selama diawasi. Tujuan pendidikan adalah membantu anak mampu memilih yang baik ketika tidak ada yang mengawasi.

Maka, jangan takut disebut guru cerewet.

Cerewetlah ketika anak mulai lupa. Cerewetlah ketika kebiasaan buruk mulai dianggap biasa. Cerewetlah ketika perundungan dianggap candaan. Cerewetlah ketika ketidakjujuran dianggap jalan pintas.

Cerewetlah ketika gawai mulai menguasai waktu belajar. Cerewetlah ketika anak mulai kehilangan kepedulian kepada lingkungan dan sesamanya.

Tetapi lakukan semuanya dengan kasih sayang, keteladanan, dialog, dan konsistensi.

Karena guru cerewet bukan guru yang paling banyak bicara. Guru cerewet adalah guru yang tidak pernah berhenti peduli.

Dan suatu hari nanti, ketika suara guru sudah tidak terdengar lagi di telinga mereka, semoga nasihat itu telah berubah menjadi suara kecil di dalam hati:

“Saya tahu mana yang benar. Dan saya memilih melakukannya, meskipun tidak ada yang melihat.”. (*)

BERITA TERKINI

TUKIJO
Membaca Strategi Penguatan Litnum Sekolah Penerima BOSKin Terbaik
WhatsApp Image 2026-09-17 at 10.52
SMP Negeri 2 Karangjambu Salurkan 7.200 Liter Air Bersih
WhatsApp Image 2026-09-17 at 09.37
SMPN 3 Satap Rembang Gelar Parenting
FAUZI PAKAIAN JAWA
Guru Cerewet dan Perjuangan Membangun Kesadaran Siswa di Era Digital
faperta1
2020-2026, Faperta Unsoed Perkuat Sinergi dengan 451 Mitra