Membaca Strategi Penguatan Litnum Sekolah Penerima BOSKin Terbaik

Bagikan :

Oleh: Tukijo, S.Pd., M.Pd.
Mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Bahasa, UNNES/Fasda Penguatan Litnum

ADA anggapan keliru yang masih sering muncul bahwa literasi numerasi dianggap sekadar kemampuan berhitung cepat, menghafal rumus, atau menyelesaikan soal matematika. Padahal, numerasi jauh lebih luas dari itu. Numerasi merupakan kemampuan menggunakan angka, data, grafik, dan pola untuk memahami persoalan, mengambil keputusan, serta menyampaikan argumentasi secara logis.

Untuk itu, penguatan literasi numerasi di sekolah seharusnya tidak berhenti pada nilai ujian matematika, tetapi menjadi jalan untuk meningkatkan kemampuan bernalar tingkat tinggi, seperti menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Bukan hanya itu, proses pembelajaran juga harus mampu menumbuhkan pengalaman belajar yang mendorong murid berpikir mahir dan tingkat tinggi, mampu berpikir kritis dan analitis, serta pada akhirnya dapat mengambil keputusan secara tepat.

Penulis berpendapat bahwa penguatan literasi numerasi merupakan salah satu investasi paling strategis dalam pendidikan. Sebab, kemampuan bernalar tingkat tinggi tidak tumbuh dari latihan soal rutin yang jawabannya sudah tersedia. Pola seperti ini identik dengan drilling soal TKA.

Pola berpikir tingkat tinggi akan tumbuh jika murid dihadapkan pada masalah nyata yang datanya tidak selalu rapi, konteksnya kompleks, dan solusinya tidak tunggal. Misalnya, murid diminta membaca data inflasi, membandingkan hasil survei, menafsirkan grafik pertumbuhan penduduk, atau menghitung proporsi anggaran. Dari situ, mereka belajar bertanya: apa sumber datanya? Apakah grafiknya menyesatkan? Kesimpulan apa yang sah dan tidak sah? Inilah inti berpikir kritis.

Kemampuan Bernalar Kritis Masih Menjadi Tantangan
Persoalan krusial saat ini adalah kemampuan bernalar kritis murid yang belum optimal. Salah satu dampaknya adalah murid mudah termakan informasi hoaks, enggan menindaklanjuti informasi penting, atau cenderung apatis meskipun informasi tersebut berkaitan dengan kepentingan mereka.

Mengapa hal itu terjadi? Salah satu penyebabnya karena murid tidak terbiasa dihadapkan pada persoalan yang menuntut jawaban bernalar kritis. Berpikir kritis bukan sekadar persoalan suka atau tidak suka terhadap sebuah informasi atau teks. Berpikir kritis lebih berkaitan dengan dampak atau impact yang diterima murid serta apa yang akan dilakukan terhadap dampak tersebut.

Masalahnya, pembelajaran di banyak sekolah masih terjebak pada pola “rumus–contoh–latihan”. Murid bisa menghitung, tetapi belum tentu mampu menalar. Mereka hafal langkah pengerjaan, tetapi bingung ketika soal diubah ke dalam konteks kehidupan nyata.

Akibatnya, kemampuan bernalar tingkat tinggi sulit berkembang. Padahal, Asesmen Nasional dan berbagai studi internasional menunjukkan bahwa tantangan utama murid bukan sekadar menguasai konten, melainkan menafsirkan informasi, mengevaluasi data, dan menyelesaikan masalah kontekstual.

Sebagai contoh, aktivitas scrolling media sosial setiap menit dan detik juga tidak menjamin nalar kritis dan kemampuan berpikir tingkat tinggi murid meningkat. Bahkan, tidak jarang mereka justru blank ketika diuji dengan pertanyaan yang menuntut jawaban kompleks.

Mengapa stimulus nyata penting dihadirkan di kelas? Jawabannya jelas, murid akan hadir di kehidupan nyata. Persoalan dalam kehidupannya akan jauh lebih kompleks. Berbagai persoalan tersebut harus diselesaikan dengan cermat oleh murid.

Karena itu, melalui berbagai strategi berpikir tingkat tinggi, murid perlu dibiasakan memiliki keterampilan Higher Order Thinking Skills (HOTS) sekaligus kemampuan bernalar kritis. Pembiasaan tersebut tidak cukup dilakukan melalui soal-soal rutin, tetapi harus melalui pengalaman belajar yang dekat dengan persoalan nyata.

Numerasi Harus Menjadi Budaya Berpikir
Oleh karena itu, penguatan literasi numerasi harus dilakukan secara menyeluruh. Pertama, numerasi tidak boleh dianggap sebagai tugas guru matematika semata. Guru IPA dapat mengajak murid menganalisis data percobaan. Guru sejarah dapat membahas data kependudukan. Guru olahraga dapat menelaah statistik pertandingan. Guru ekonomi dapat mengajak murid membaca laporan keuangan sederhana.

Dengan demikian, numerasi menjadi budaya berpikir lintas mata pelajaran, bukan sekadar materi dalam satu mata pelajaran.

Kedua, pedagogi di kelas perlu bergeser. Guru perlu lebih sering menggunakan masalah terbuka, pembelajaran berbasis proyek, dan diskusi argumentatif. Murid tidak hanya diminta menjawab, tetapi juga menjelaskan alasan, membandingkan strategi, dan mempertanyakan asumsi.

Misalnya, daripada hanya menghitung rata-rata nilai kelas, murid dapat diminta mengevaluasi apakah rata-rata cukup menggambarkan kemampuan seluruh murid atau apakah median dan modus memberikan cerita yang berbeda. Cara seperti ini dapat melatih penalaran tingkat tinggi.

Ironisnya, model soal numerasi masih sering berbentuk matematis dengan deretan angka. Penggunaan stimulus berupa infografis memang sudah bagus, tetapi kompetensi yang diujikan masih berada pada level low. Tanpa disadari, bentuk soal semacam itu masih sering dibuat oleh guru.

Bahkan, tanpa analisis yang mendalam, berbagai bentuk soal matematis masih dikonsumsi sebagai tugas yang harus dijawab, tetapi jauh dari proses bernalar. Padahal, esensi numerasi bukan sekadar menemukan jawaban yang benar, melainkan memahami informasi, menganalisisnya, memberikan alasan, dan mengambil keputusan berdasarkan data.

Asesmen Perlu Mendorong Penalaran
Ketiga, asesmen harus ikut berubah. Jika ujian hanya menuntut hafalan dan hitungan cepat, guru akan cenderung mengajar dengan cara yang sama. Sebaliknya, asesmen yang menekankan pemecahan masalah kontekstual, portofolio, proyek data, dan presentasi argumentasi akan mendorong pembelajaran yang lebih bermakna.

Asesmen bukan sekadar alat untuk mengukur kemampuan murid, tetapi juga memberikan pesan tentang kemampuan apa yang dianggap penting dalam proses pendidikan.

Tentu, penguatan literasi numerasi tidak mudah. Guru membutuhkan dukungan berupa pelatihan yang berkelanjutan, komunitas belajar, bank soal numerasi kontekstual, serta waktu untuk berkolaborasi.

Jangan sampai kebijakan penguatan literasi numerasi justru hanya menambah beban administratif baru. Yang diperlukan adalah perubahan praktik di kelas, bukan sekadar penambahan dokumen.

Pada akhirnya, literasi numerasi bukan hanya tentang angka. Literasi numerasi adalah tentang cara berpikir. Murid yang numerat akan lebih mampu membaca dunia, memahami risiko, menimbang peluang, mengevaluasi klaim berbasis data, dan mengambil keputusan secara lebih rasional.

Jika sekolah serius menguatkan literasi numerasi, maka yang dihasilkan bukan hanya murid yang pandai berhitung, melainkan generasi yang mampu bernalar tingkat tinggi, berpikir kritis, dan siap menghadapi perubahan zaman.

Karena itu, dalam konteks penguatan literasi numerasi di sekolah, perlu penguatan aspek fisik, sosioafektif, dan akademik secara holistik.

Ketiganya perlu berjalan beriringan agar literasi numerasi tidak berhenti sebagai kemampuan akademik, tetapi benar-benar menjadi bagian dari cara murid berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan dalam kehidupan nyata.(*)

BERITA TERKINI

TUKIJO
Membaca Strategi Penguatan Litnum Sekolah Penerima BOSKin Terbaik
WhatsApp Image 2026-09-17 at 10.52
SMP Negeri 2 Karangjambu Salurkan 7.200 Liter Air Bersih
WhatsApp Image 2026-09-17 at 09.37
SMPN 3 Satap Rembang Gelar Parenting
FAUZI PAKAIAN JAWA
Guru Cerewet dan Perjuangan Membangun Kesadaran Siswa di Era Digital
faperta1
2020-2026, Faperta Unsoed Perkuat Sinergi dengan 451 Mitra