Jembatan Kereta Api Peninggalan Belanda Diusulkan Jadi Cagar Budaya

Bagikan :

*Jejak Trem Uap Lembah Serayu Berusia Lebih Seabad Mulai Diselamatkan

Jembatan rel kereta api roda besi peninggalan Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) di Desa Prigi, Kecamatan Sigaluh ,Kabupaten Banjarnegara atau di jalan raya jurusan Banjarnegara-Wonosobo. (Foto: Heni Purwono/EDUKATOR)

BANJARNEGARA, EDUKATOR–Jembatan rel kereta api roda besi peninggalan Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) pada zaman Belanda di Desa Prigi, Kecamatan Sigaluh ,Kabupaten Banjarnegara mulai dikaji untuk diusulkan sebagai cagar budaya. Bangunan bersejarah yang menjadi saksi perkembangan transportasi dan aktivitas ekonomi masa kolonial tersebut dinilai memiliki nilai sejarah tinggi sehingga perlu mendapatkan perlindungan.

Ketua Umum Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI) Heni Purwono mengatakan, jembatan SDS itu  merupakan salah satu jembatan kereta api peninggalan SDS  yang masih bertahan di jalur lama perkeretaapian Banjarnegara–Wonosobo. Bangunan tersebut memiliki usia lebih dari satu abad dan menjadi bagian penting dari sejarah transportasi di wilayah Lembah Serayu.

Kondisi fisik jembatan kereta api SDS yang sudah berkarat, namun masih kokoh.  (Foto: Heni Purwono/EDUKATOR)

“Ini merupakan salah satu dari jembatan kereta api SDS  di Banjarnegara yang melintasi jalan nasional. Usianya lebih dari seabad,” ujar Heni yang juga guru sejarah SMAN 1 Sigaluh di Banjarnegara, Selasa (7/7/2026)..

Menurut Heni, keberadaan jembatan peninggalan SDS perlu segera mendapatkan perhatian agar tidak hilang. Sebelumnya, salah satu jembatan SDS telah dibongkar, tepatnya di kawasan depan pom bensin Prigi.

“Kalau tidak kita tetapkan jadi cagar budaya, ini juga rawan dibongkar,” tegasnya.

Kajian terhadap jembatan tersebut dilakukan YSMI bersama Komunitas Brotherhood of Rompi Orange melalui Program Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya Dana Indonesia Raya  yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tahun 2025.

Kajian lapangan di ruas jembatan kereta api SDS . (Foto: Heni Purwono/EDUKATOR)

Tim melakukan penelitian lapangan pada Selasa (7/7/2026) di ruas jembatan kereta api Gribig, Desa Prigi, Kecamatan Sigaluh, Kabupaten Banjarnegara. Hasil penelusuran menunjukkan struktur utama jembatan masih relatif kokoh, meskipun bantalan dan rel kereta api sudah tidak tersisa.

Peninggalan Trem Uap Lembah Serayu
SDS  merupakan perusahaan trem uap swasta milik pemerintah kolonial Hindia Belanda yang didirikan pada 1894. Perusahaan ini membangun dan mengoperasikan jaringan kereta api di kawasan Lembah Sungai Serayu yang menghubungkan Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, hingga Wonosobo.

Jalur SDS mulai masuk wilayah Banjarnegara pada akhir abad ke-19. Ruas Klampok–Banjarnegara mulai beroperasi pada 1898, kemudian jalurnya diperpanjang menuju Wonosobo pada 1916–1917.

Selama puluhan tahun, SDS menjadi sarana transportasi penting bagi masyarakat sekaligus jalur pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Berbagai komoditas pertanian dan perkebunan seperti hasil hutan, tanaman perkebunan, serta produk pertanian masyarakat diangkut melalui jalur tersebut menuju pusat-pusat ekonomi.

Jembatan kereta api SDS, difoto dari bawah. (Foto: Heni Purwono/EDUKATOR)

Jalur SDS menghubungkan wilayah pedalaman Banjarnegara dan Wonosobo dengan pusat perdagangan seperti Banjarnegara dan Purwokerto, hingga tersambung menuju Pelabuhan Cilacap. Melalui jaringan tersebut, hasil bumi masyarakat dapat didistribusikan ke berbagai wilayah dan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi pada masa kolonial.

Selain jembatan di Prigi, sejumlah jejak infrastruktur SDS lainnya masih dapat ditemukan di koridor Banjarnegara–Wonosobo, di antaranya kawasan Gembongan dan Cangkring di wilayah Sigaluh. Keberadaan bangunan-bangunan tersebut menjadi bukti perjalanan panjang jaringan trem uap yang pernah menjadi urat nadi transportasi masyarakat.

Aktivitas SDS berlangsung hingga sekitar akhir 1970-an sebelum jalur tersebut berhenti beroperasi akibat perubahan pola transportasi, menurunnya jumlah pengguna, serta meningkatnya biaya perawatan infrastruktur.

Nilai Sejarah Perlu Dijaga
Dukungan terhadap pengusulan jembatan SDS sebagai cagar budaya juga disampaikan Komunitas Brotherhood of Rompi Orange.

Ade Hermanto dari komunitas tersebut mengatakan, keberadaan jembatan besi SDS  merupakan bukti perjalanan panjang perkembangan transportasi di Banjarnegara.

“Pekerjaan kita setiap hari di jalanan, jadi melihat perkembangan dari masa ke masa jejak kereta api ini. Memang belum ada upaya pelestarian dan rawan kerusakan,” kata Ade Hermanto.

Ia menyebut, hilangnya rel dan komponen pendukung lainnya menunjukkan perlunya perhatian lebih terhadap peninggalan perkeretaapian.

Menurutnya, meskipun jalur tersebut tidak lagi digunakan untuk aktivitas ekonomi, nilai sejarahnya tetap penting bagi generasi mendatang.

“Ini bisa menjadi penanda kota dan juga pengingat sejarah,” ujarnya.

Ade Hermanto berharap pemerintah dan masyarakat bersama-sama menjaga peninggalan perkeretaapian di Banjarnegara. Menurutnya, keberadaan jembatan tersebut tidak hanya memiliki nilai fisik, tetapi juga menyimpan cerita tentang perkembangan ekonomi dan kehidupan masyarakat pada masa lalu.

“Mungkin tidak punya nilai ekonomi seperti rel biasa yang saat ini banyak disewakan PT KAI, namun nilai sejarahnya justru tak ternilai untuk anak cucu kita,” tandasnya.

Melalui kajian tersebut, YSMI berharap jembatan SDS di Prigi dapat memperoleh status sebagai cagar budaya. Dengan perlindungan tersebut, bangunan peninggalan lebih dari satu abad itu diharapkan tetap terjaga sebagai warisan sejarah dan sumber pembelajaran bagi masyarakat Banjarnegara. (Heni Purwono/Prs)

 

BERITA TERKINI

FAUZI PAKAIAN JAWA
Refleksi Sekolah Menyikapi Arus Budaya LGBTQ di Tengah Tumbuh Kembang Remaja
WhatsApp Image 2026-07-07 at 14.31
Jembatan Kereta Api Peninggalan Belanda Diusulkan Jadi Cagar Budaya
WhatsApp Image 2026-07-07 at 14.41
Lima Pramuka Garuda Banyumas Raih Juara Tingkat Kwarda Jateng
WhatsApp Image 2026-07-06 at 14.33
Sekolah Rakyat Berusia Lebih Seabad di Banjarnegara Dikaji Jadi Cagar Budaya
FULAD6
Jangan Menunggu Embargo: Alarm Strategis bagi Masa Depan TNI dan Pertahanan Indonesia