Oleh:Mayjen TNI (Purn) Fulad, S.Sos, M.Si
Penasihat Militer RI untuk PBB (2017-2019)
Pendahuluan
DUNIA baru saja diberi napas lega. Senin lalu, Amerika Serikat dan Iran mengumumkan kesepakatan damai yang difasilitasi Pakistan. Isinya mulia: penghentian operasi militer permanen di semua front, termasuk Lebanon. Ini adalah kabar yang dinanti sejak perang berkecamuk pada akhir Februari 2026.
Namun, rasa lega itu berubah menjadi kecut hanya dalam hitungan jam. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, justru angkat suara dengan tegas dan frontal. “Perjuangan belum berakhir,” katanya. Pasukan Israel akan tetap berada di zona keamanan Lebanon selama diperlukan. Menteri Pertahanannya, Katz, bahkan menambahkan pernyataan yang lebih keras: pasukan akan tinggal tanpa batas waktu.
Di sinilah letak kebohongan publik pertama. Di satu meja mereka berjabat tangan untuk damai, tetapi di medan perang tank-tank Israel justru bergerak semakin dalam ke wilayah Lebanon selatan. Ini bukan lagi sekadar kontradiksi, melainkan penghinaan terhadap logika diplomatik.
Sebagai mantan penasihat militer PBB yang pernah bergelut dengan konflik di kawasan ini, saya memahami satu hal: ketika teks perjanjian tidak jelas dan para aktor di lapangan tidak diajak berbicara, yang tersisa hanyalah bubuk mesiu.
Kabut Informasi yang Dibangun dengan Sengaja
Saya tidak suka berteori di atas angin. Saya ingin berbicara berdasarkan fakta.
Fakta pertama, teks kesepakatan tidak dipublikasikan. Ini adalah dosa besar dalam diplomasi modern. Ketika rakyat dan negara-negara yang terdampak tidak dapat membaca sendiri isi perjanjian, yang muncul adalah perang tafsir. Dan perang tafsir justru menguntungkan pihak-pihak yang ingin melanggarnya.
Mari kita bedah tiga versi yang saling bertentangan.
Pertama, Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan dengan tegas bahwa tanpa penarikan Israel, perang belum berakhir. Ini merupakan syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.
Kedua, Amerika Serikat melalui pejabat yang tidak disebutkan namanya menjawab dingin bahwa persoalan tersebut hanyalah perang kecil yang tidak mengikat kesepakatan besar. Sebuah pembelaan diplomatik ala kadarnya dari Washington.
Ketiga, Pakistan sebagai mediator menyatakan bahwa semua front harus berhenti, termasuk Lebanon. Ini adalah upaya menjaga kredibilitas proses perdamaian.
Lalu siapa yang benar? Semua benar dan sekaligus tidak ada yang benar.
Dalam dunia intelijen, kondisi seperti ini dikenal sebagai plausible deniability, yaitu situasi ketika semua pihak dapat mengklaim kemenangan atau menarik diri kapan pun mereka mau. Kesepakatan yang dibangun di atas ambiguitas bukanlah sebuah kesepakatan. Itu hanyalah gencatan senjata yang ditunda, dan penundaan tersebut cepat atau lambat akan berakhir di medan perang.
Netanyahu Bukan Orang Gila, Dia Sedang Bermain Catur
Saya membaca banyak komentar yang menyebut Netanyahu keras kepala. Saya tidak sependapat.
Netanyahu bukan orang bodoh. Ia adalah pemain catur ulung yang sedang mempertaruhkan kursi kekuasaannya.
Mengapa ia bersikukuh?
Karena ia tahu bahwa mundur dari Lebanon sama saja dengan bunuh diri politik di dalam negeri. Ia sedang menghadapi kritik yang menuduhnya terlalu patuh kepada Trump. Oleh sebab itu, ia harus menunjukkan bahwa dirinya mampu berkata “tidak” kepada sekutu terbesarnya sekalipun. Ini adalah akrobat politik tingkat tinggi.
Lebih jauh lagi, Netanyahu menyadari satu kelemahan besar Amerika Serikat: negara itu tidak ingin kembali terjebak dalam perang besar. Trump ingin keluar dari Timur Tengah dengan kepala tegak. Netanyahu memanfaatkan celah tersebut.
Ia tahu Amerika Serikat akan terus mendanai dan mempersenjatai Israel apa pun yang terjadi. Jadi, mengapa harus mundur? Selama Hizbullah masih dapat disebut sebagai ancaman eksistensial, kebijakan pendudukan itu masih bisa dijual kepada publik Israel.
Namun ada satu hal yang tampaknya diabaikan Netanyahu, yaitu waktu. Serangan-serangan kecil yang terjadi setiap hari di Lebanon selatan terus menggerogoti pasukannya. Korban jiwa mulai bertambah. Ini bukan perang kilat, melainkan rawa yang perlahan menenggelamkan kakinya sendiri.
Tiga Jalan, Dua di Antaranya Menuju Neraka
Saya tidak suka berbasa-basi. Mari kita lihat peta jalan ke depan.
Jalan pertama adalah skenario neraka. Iran menganggap kesepakatan batal sehingga perang skala penuh kembali meletus. Kali ini bukan hanya Hizbullah yang terlibat, tetapi juga proksi Iran di Suriah, Yaman, dan Irak. Yang terjadi bukan lagi perang lokal, melainkan api besar yang meluas ke seluruh kawasan.
Jalan kedua adalah skenario neraka versi lain. Amerika Serikat dan Israel bertengkar di depan publik. Trump mulai mengecam Netanyahu secara terbuka dalam KTT G7, sesuatu yang nyaris tidak pernah terjadi dalam sejarah hubungan kedua negara. Trump menyebut serangan Israel “kejam dan keterlaluan” serta menganggap pendekatan Netanyahu “benar-benar gila”. Ini bukan sekadar retak, melainkan patah tulang dalam aliansi strategis mereka.
Jalan ketiga adalah skenario harapan. Kompromi dicapai pada menit-menit terakhir melalui penarikan pasukan secara bertahap dan pembentukan zona demiliterisasi di bawah pengawasan UNIFIL yang diperkuat. Namun untuk mencapainya, Netanyahu harus bersedia kehilangan muka, dan saya meragukan hal itu akan terjadi dalam waktu dekat.
Saya pribadi menilai jalan kedua lebih mungkin terjadi dalam 60 hari ke depan. Perundingan di Swiss akan dimulai pada Jumat ini, dan 60 hari setelahnya akan menjadi medan pertempuran sesungguhnya bagi masa depan kesepakatan tersebut.
PBB yang Lumpuh dan Peluang Emas Indonesia
Sebagai orang yang pernah duduk di lingkungan PBB, saya harus jujur bahwa organisasi ini sedang lumpuh dalam persoalan tersebut. Hak veto Amerika Serikat di Dewan Keamanan membuat setiap resolusi yang mengkritik Israel atau Amerika akan mati sebelum lahir.
UNIFIL di lapangan hanya mampu melakukan pemantauan. Mandat mereka terbatas dan tidak memiliki kekuatan untuk memaksa.
Namun PBB bukan satu-satunya harapan. Indonesia justru sedang memegang kartu yang cukup kuat.
Kita dikenal sebagai negara yang memiliki pasukan perdamaian dengan reputasi baik di dunia. Saya sendiri pernah bertugas selama satu tahun di Lebanon, sebuah pengalaman yang sangat berharga.
Sudah saatnya Indonesia berani mengambil peran lebih aktif. Menteri Luar Negeri harus membangun komunikasi intensif dengan para pemain kunci seperti Amerika Serikat, Iran, Turki, dan Arab Saudi. Indonesia dapat menawarkan diri sebagai pengamat sekaligus menyiapkan kontribusi pasukan apabila mekanisme pemantauan gencatan senjata benar-benar dibentuk.
Sebab jika kita memilih diam, darah yang terus tumpah di Lebanon selatan juga menjadi tanggung jawab moral kita. Stabilitas Timur Tengah bukanlah persoalan yang jauh dari Indonesia. Harga minyak, keamanan energi, dan arus perdagangan global memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat Indonesia.
Penutup
Kesepakatan Amerika Serikat dan Iran merupakan langkah kecil yang patut diapresiasi. Namun jangan pernah menganggap langkah kecil sebagai garis akhir.
Netanyahu boleh bertahan di Lebanon. Trump boleh marah di G7. Iran boleh mengancam dari Teheran. Namun pada akhirnya, yang membayar harga tertinggi selalu rakyat biasa.
Lebih dari 3.700 warga Lebanon telah tewas dan lebih dari satu juta orang mengungsi. Pertanyaannya, berapa banyak lagi nyawa yang harus melayang sebelum para pemimpin di ruang berpendingin udara itu menyadari bahwa perang tidak pernah memiliki pemenang?
Saya tetap optimistis, tetapi optimisme saya adalah optimisme yang waspada. Saya percaya diplomasi masih memiliki ruang, meskipun ruang itu semakin menyempit.
Yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar kata-kata manis, melainkan tekanan nyata, keberanian politik, dan kejujuran untuk mengakui bahwa status quo yang ada sekarang tidak dapat terus dipertahankan.
Jakarta, Juni 2026