Mayjen TNI (Purn.) Fulad di Hadapan Wisudawan UNMER Madiun: Gelar Tinggi Harus Bermanfaat bagi Masyarakat

Bagikan :

MADIUN, EDUKATOR–Di tengah perubahan dunia kerja akibat kecerdasan artifisial (AI) dan otomatisasi, gelar sarjana tidak lagi cukup menjadi bekal untuk meraih keberhasilan. Lulusan perguruan tinggi dituntut membuktikan kompetensi, menjaga integritas, dan menciptakan solusi bagi persoalan masyarakat. Pesan tersebut disampaikan Mayjen TNI (Purn.) Dr. (Can.) Fulad, S.Sos., M.Si., dalam orasi ilmiah Wisuda Sarjana ke-71 dan Ahli Madya ke-47 Universitas Merdeka Madiun (UNMER Madiun), Sabtu, 24 Oktober 2026.

Mengusung tema “Gelar Boleh Setinggi Langit, Namun Tetap Membumi untuk Kesejahteraan Kehidupan”, Fulad mengajak para lulusan menjadikan ijazah sebagai awal tanggung jawab, bukan sekadar pencapaian akademik. Menurut dia, keberhasilan seorang sarjana tidak hanya diukur dari gelar atau jabatan, tetapi juga dari kemampuan menerapkan ilmu dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Wisuda berlangsung melalui Rapat Senat Terbuka di Graha Samiarto Laksono, Universitas Merdeka Madiun. Momentum tersebut menjadi penanda berakhirnya pendidikan formal sekaligus awal perjalanan para lulusan menghadapi tantangan dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.

Gelar Akademik Bukan Jaminan Keberhasilan
Fulad yang pernah menjabat penasehat militer RI untuk PBB tahun 2017-2019 menyoroti perkembangan teknologi digital, kecerdasan artifisial, dan otomatisasi yang mengubah pola kerja serta kebutuhan kompetensi. Perubahan tersebut menuntut lulusan agar terus belajar, meningkatkan keterampilan, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

“Gelar adalah pintu masuk, bukan jaminan keberhasilan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti persoalan ketenagakerjaan, seperti ketidaksesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja, ketatnya persaingan, perubahan jenis pekerjaan akibat teknologi, serta terbatasnya lapangan kerja formal.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Fulad mendorong peningkatan kompetensi, penguatan sinergi perguruan tinggi dengan dunia kerja, pengembangan ekonomi hijau, ekonomi kreatif, dan ekonomi biru, serta dukungan bagi wirausaha muda.

Menurut dia, dunia kerja tidak hanya membutuhkan lulusan yang memiliki ijazah, tetapi juga individu yang mampu berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, berkreasi, dan menyelesaikan masalah.

Karena itu, para lulusan perlu menguasai bidang keilmuan masing-masing sekaligus mengembangkan kemampuan digital dan adaptif. Teknologi, termasuk AI, harus dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menghilangkan daya pikir dan tanggung jawab dalam mengambil keputusan.

Kompetensi Harus Berjalan Bersama Karakter
Fulad menjelaskan, terdapat perbedaan mendasar antara memiliki gelar dan mempunyai kapasitas. Gelar menunjukkan seseorang telah menyelesaikan pendidikan formal, sedangkan kapasitas tercermin dari kemampuannya menggunakan pengetahuan untuk menghadapi persoalan nyata.

Ia menekankan tiga kemampuan penting yang perlu dimiliki lulusan, yakni kompetensi keilmuan, kemampuan digital dan adaptif, serta keterampilan memecahkan masalah.

Selain kompetensi, integritas menjadi unsur penting dalam membangun kepercayaan. Kejujuran, amanah, dan tanggung jawab harus tetap dijaga, terutama ketika seseorang memiliki kesempatan memperoleh keuntungan dengan mengabaikan prinsip moral.

“Gelar membuat kalian dikenal, integritas membuat kalian dipercaya,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa pendidikan bukan sarana untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain, melainkan amanah untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kontribusi bagi kehidupan. Semakin tinggi pendidikan seseorang, seharusnya semakin luas pandangannya dan semakin rendah hati sikapnya.

Ilmu Harus Membumi dan Memberi Manfaat
Dalam orasinya, Fulad mengangkat pesan yang ia kenal sejak kecil di Gombong, Kebumen, yakni “Di atas ada Allah, di bawah ada tanah.”

Pesan tersebut, menurut dia, mengandung filosofi bahwa setinggi apa pun ilmu dan jabatan seseorang, ia tetap memiliki tanggung jawab moral dan spiritual. Pada saat yang sama, seseorang tidak boleh kehilangan akar kehidupan, keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Ia mengajak para lulusan untuk tidak meremehkan pekerjaan di desa, membantu petani, mendampingi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), maupun menyelesaikan persoalan masyarakat. Justru melalui tindakan nyata tersebut, manfaat ilmu dapat dirasakan secara langsung.

Sarjana hukum, misalnya, diharapkan berkontribusi menghadirkan keadilan. Lulusan ekonomi dan manajemen dapat membantu kegiatan ekonomi tumbuh dan meningkatkan kesejahteraan. Sementara itu, lulusan pertanian dan teknologi diharapkan mampu menghadirkan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Fulad menegaskan, keberhasilan tidak semata-mata diukur dari tingginya jabatan atau besarnya penghasilan, tetapi juga dari manfaat yang ditinggalkan.

“Gelar menunjukkan apa yang dipelajari, kapasitas menunjukkan manfaatnya,” ujarnya.

Lulusan Harus Terus Belajar dan Beradaptasi
Menghadapi perubahan zaman, Fulad mengingatkan bahwa wisuda bukan akhir dari proses belajar. Para lulusan justru memasuki ruang pembelajaran yang lebih luas, yakni kehidupan nyata.

Mereka perlu belajar dari keberhasilan, kegagalan, pengalaman, dan masyarakat. Prinsip learn, unlearn, relearn—belajar hal baru, meninggalkan cara lama yang tidak lagi relevan, kemudian belajar kembali—menjadi penting untuk menghadapi perubahan.

Ia mencontohkan sejumlah tokoh yang terus belajar dan mengembangkan kapasitas, antara lain B.J. Habibie, Satya Nadella, Jack Ma, Thomas Edison, dan Harland Sanders. Perjalanan mereka menunjukkan bahwa kemauan belajar, keberanian mencoba, dan kemampuan beradaptasi merupakan bagian penting dari proses membangun keberhasilan.

Fulad merangkum perjalanan ideal seorang sarjana dalam empat pilar, yaitu gelar, kompetensi, karakter, dan kebermaknaan. Gelar memberikan pengakuan akademik, kompetensi menghadirkan kemampuan, karakter menjaga arah dan integritas, sedangkan kebermaknaan memastikan seluruhnya menghasilkan manfaat.

Keempat pilar tersebut, menurut dia, tidak dapat dipisahkan. Gelar tanpa kompetensi kehilangan daya, kompetensi tanpa karakter kehilangan arah, dan seluruhnya belum sempurna jika tidak memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pesan untuk Wisudawan dan Orang Tua
Menutup orasi, Fulad mengingatkan para lulusan agar selalu menghormati perjuangan orang tua dan keluarga yang telah mendukung pendidikan mereka. Di balik keberhasilan wisuda, terdapat doa, pengorbanan, kerja keras, dan kesabaran yang tidak selalu terlihat.

Ia berpesan agar para lulusan tidak merasa lebih tinggi daripada orang tua hanya karena memiliki ijazah. Para lulusan juga harus berani memulai dari bawah, menjaga kejujuran, serta tidak kehilangan kepedulian terhadap masyarakat.

Fulad mengajak mereka tidak hanya mencari tempat yang nyaman untuk membangun karier, tetapi juga mencari ruang untuk memberikan kontribusi nyata.

“Jangan hanya mencari sukses, tetapi berikan arti,” pesannya.

Ia berharap ilmu yang diperoleh para lulusan UNMER Madiun menjadi kebanggaan keluarga, bermanfaat bagi masyarakat, berkontribusi bagi bangsa, serta menjadi amal kebaikan.

Menurut Fulad, manusia tidak hanya dikenang karena gelar yang pernah disandang, tetapi juga karena tindakan, cara memperlakukan sesama, dan manfaat yang ditinggalkan.

Karena itu, ia menegaskan kembali pesan utama orasinya: setinggi apa pun ilmu dan cita-cita yang diraih, setiap sarjana harus tetap rendah hati, menjaga integritas, dan berpijak pada realitas kehidupan.

“Gelar boleh setinggi langit, kaki tetap menginjak tanah,” pungkasnya. (Prasetiyo)

 

 

 

BERITA TERKINI

Screenshot 2026-10-24 104702
Mayjen TNI (Purn.) Fulad di Hadapan Wisudawan UNMER Madiun: Gelar Tinggi Harus Bermanfaat bagi Masyarakat
Maritime Industry Innovation Poster
Transformasi Teknologi dan Penguatan Rantai Pasok, Kunci Menghadapi Persaingan Industri Kelapa Sawit
DSC08267
IAPA Rumuskan Lima Rekomendasi untuk Perbaiki Tata Kelola Pemerintahan Indonesia
Screenshot 2026-10-23 172023
Semangat Mencintai Al-Qur’an, Warnai Hari Santri di SMPN 3 Satap Rembang
WhatsApp Image 2026-10-23 at 13.57
Jelang TKA, SMAN 1 Sigaluh Gelar Doa Bersama