*Kuliah Dosen Tamu Prodi Magister Agribisnis Pascasarjana Unsoed

PURWOKERTO, EDUKATOR – Transformasi teknologi dan penguatan rantai pasok menjadi kunci menghadapi persaingan bisnis global industri kelapa sawit. Hal tersebut mengemuka dalam Kuliah Dosen Tamu Program Studi Magister Agribisnis, Pascasarjana Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Sabtu (24/10/2026), yang diselenggarakan secara daring melalui zoom.
Kegiatan mengangkat tema “Integrasi Teknologi Pangan, Efisiensi Rantai Pasok, dan Mitigasi Risiko Bisnis Global pada Agroindustri Kelapa Sawit”. Hadir sebagai narasumber Dr. Suwardi, S.T.P., M.Si., IPU, dari Wilmar International Plantation. Diskusi dipandu Prof. Dr. Ade Banani, M.MS., dosen pengajar Magister Agribisnis Unsoed.
Kuliah dosen tamu tersebut diikuti 180 peserta dari mahasiswa Diploma 3, S1, S2 sampai S3 Agribisnis, dosen dan umum.
Transformasi Teknologi Jadi Kebutuhan
Dalam pemaparannya, Suwardi menjelaskan industri kelapa sawit menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, keterbatasan tenaga kerja, kebutuhan mekanisasi, perkembangan teknologi pertanian, hingga dinamika pasar global.
Menurutnya, industri harus bertransformasi agar mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing. Pemanfaatan teknologi seperti sistem informasi geografis (GIS), drone, kecerdasan buatan (AI), dan analisis data dapat membantu perusahaan mengambil keputusan secara lebih cepat dan tepat.
“Teknologi digital mengubah data menjadi keputusan presisi,” ujar Suwardi, Ketua Bidang Perkebunan dan Hortikultura Persatuan Insinyur Indoensia ini.
Ia juga memaparkan peralihan dari perkebunan konvensional menuju smart plantation. Sistem tersebut memanfaatkan pemantauan secara waktu nyata, data spasial, dan analisis digital untuk mengidentifikasi kondisi tanaman serta menentukan tindakan sesuai kebutuhan setiap blok perkebunan.
Mekanisasi dan Riset Tingkatkan Produktivitas
Selain digitalisasi, mekanisasi menjadi bagian penting dalam meningkatkan efisiensi operasional perkebunan. Penerapannya mencakup pemupukan, pengangkutan tandan buah segar (TBS), aplikasi tandan kosong kelapa sawit (EFB), hingga kegiatan pemanenan.
Penggunaan mesin dinilai mampu meningkatkan kapasitas kerja, mengurangi kebutuhan tenaga kerja, serta menekan biaya operasional per ton produksi.
Suwardi juga menekankan pentingnya penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D). Inovasi teknologi perlu diuji melalui penelitian dan penerapan di lapangan agar benar-benar memberikan manfaat terukur.
“Keberhasilan teknologi ditentukan kesesuaian dengan kebutuhan lapangan,” ujarnya.
Efisiensi Rantai Pasok dan Mitigasi Risiko
Suwardi juga membahas pentingnya integrasi rantai pasok kelapa sawit, mulai dari perkebunan, pemanenan, pengangkutan, pabrik kelapa sawit (PKS), proses pemurnian (refinery), hingga distribusi produk kepada konsumen.
Kualitas TBS dan kecepatan penanganan menjadi faktor penting dalam menjaga rendemen minyak. Buah yang dipanen tidak sesuai tingkat kematangan, brondolan yang tertinggal, serta keterlambatan pengangkutan dapat menyebabkan kehilangan hasil dan penurunan mutu.
Selanjtnya dijelaskan, digitalisasi rantai pasok melalui GPS, penimbangan elektronik, pencatatan transaksi, dan sistem keterlacakan (traceability) juga diperlukan untuk meningkatkan transparansi serta memastikan asal-usul bahan baku.
Dalam konteks bisnis global, industri kelapa sawit turut menghadapi risiko perubahan iklim, fluktuasi harga, ketidakpastian geopolitik, serta tuntutan keberlanjutan dan regulasi pasar internasional.
Karena itu, pengelolaan risiko perlu bergeser dari pola reaktif menuju prediktif. Pemantauan data dan sistem peringatan dini dapat membantu perusahaan mengantisipasi persoalan sebelum menimbulkan kerugian.
Keberlanjutan Menjadi Kunci Daya Saing
Suwardi juga memaparkan pentingnya penerapan ekonomi sirkular dengan mengolah hasil samping industri kelapa sawit menjadi sumber energi dan produk bernilai ekonomi. Limbah cair pabrik kelapa sawit (POME), misalnya, dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas, sedangkan serat dan cangkang dapat digunakan sebagai sumber energi terbarukan.
Selain itu, keberlanjutan dan keterlacakan menjadi persyaratan penting untuk menjaga akses pasar global. Perusahaan dituntut menerapkan pengelolaan perkebunan yang bertanggung jawab, perlindungan lingkungan, kesejahteraan pekerja, serta kepatuhan terhadap ketentuan pasar dan pembeli.
Melalui kuliah dosen tamu ini, mahasiswa Magister Agribisnis diharapkan memperoleh pemahaman mengenai keterkaitan teknologi, efisiensi operasional, manajemen risiko, dan keberlanjutan dalam membangun industri kelapa sawit yang kompetitif.
Materi tersebut sekaligus menegaskan bahwa masa depan agribisnis membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan berpikir strategis, literasi data dan teknologi, kepemimpinan kolaboratif, serta jiwa inovasi dan kewirausahaan.
Industri Kelapa Sawit Hadapi Ketidakpastian
Sementara itu koordinator Prodi Magister Agribisnis Pascasarjana Unsoed Dr Dindy Darmawati Putri saat membuka kuliah dosen tamu tersebut mengemukakan, industri kelapa sawit saat ini menghadapi ketidakpastian akibat perubahan situasi global.
Tantangan tersebut antara lain penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang menuntut keterlacakan produk dan pemenuhan standar keberlanjutan, volatilitas harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO), percepatan hilirisasi, serta penurunan produktivitas di sektor hulu akibat anomali iklim.
Ia menilai, pendekatan manajemen yang berjalan secara parsial tidak lagi memadai untuk mempertahankan daya saing perusahaan maupun industri kelapa sawit nasional. Diperlukan integrasi manajemen yang sistematis, mencakup inovasi teknologi pangan untuk meningkatkan nilai tambah, optimalisasi rantai pasok guna menekan inefisiensi logistik, serta penguatan mitigasi risiko di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik global.
Menurut Dindy, kuliah tamu dengan menghadirkan praktisi dari Wilmar International Plantation menjadi kesempatan bagi mahasiswa Magister Agribisnis khususnya untuk menghubungkan teori akademik dengan praktik bisnis di lapangan.
“Materi tersebut relevan dengan berbagai bidang kajian, seperti manajemen risiko, pemasaran dan rantai pasok agribisnis, ekonomi manajerial, serta ekonomi makro,” ujar Dindy Darmawati Putri.
Ia berharap, forum akademik tersebut dapat mendorong mahasiswa mengembangkan gagasan penelitian tesis yang aplikatif dan berorientasi pada pemecahan masalah (problem-solving), terutama dalam merespons persoalan strategis industri kelapa sawit nasional.
Diskusi bersama praktisi diharapkan menghasilkan pemikiran konstruktif dan inovatif untuk memperkuat keberlanjutan serta daya saing industri. (Prasetiyo)