Rudal Vs Anggaran: Iron Dome Yang Paling Mahal Bukan di Langit

Bagikan :

Oleh: Mayjen TNI (Purn.) Fulad, S.Sos,M.Si
Penasihat Militer RI untuk PBB (2017–2019)

Pendahuluan
Dunia sedang menyaksikan duel di langit Timur Tengah.
Israel meluncurkan rudal pencegat senilai sekitar 100.000 dolar AS untuk menembak drone Iran yang harganya sekitar 20.000 dolar AS. Jet tempur F-35 yang bernilai sekitar 100 juta dolar AS diterbangkan untuk mengejar roket yang biayanya jauh lebih murah.

Israel mungkin unggul dalam kemampuan pertahanan udara, tetapi biaya yang harus dikeluarkan sangat besar. Dalam satu malam serangan, pengeluaran bisa mencapai 1 miliar dolar AS. Iron Dome memang kuat, tetapi biaya operasionalnya juga sangat tinggi.

Inilah salah satu pelajaran termahal abad ke-21. Perang modern bukan lagi sekadar adu kekuatan militer, melainkan adu kapasitas industri dan kemampuan anggaran negara.

Negara yang memiliki stok rudal melimpah dan industri pertahanan yang terus berproduksi akan lebih siap menghadapi konflik. Sebaliknya, negara yang hanya mengandalkan pembelian dari luar akan rentan ketika jalur pasokan terganggu.

Indonesia perlu mengambil pelajaran dari perkembangan ini.

Rudal Murah Vs Jet Mahal, Revolusi Medan Tempur
Perang antara Iran dan Israel yang melibatkan dukungan Amerika Serikat telah mengubah banyak asumsi lama mengenai medan tempur modern.

Dahulu kemenangan sering dikaitkan dengan jumlah tank yang lebih banyak atau pesawat tempur yang lebih canggih. Kini, kemampuan memproduksi rudal dan drone dalam jumlah besar menjadi faktor yang sangat menentukan.

Drone Shahed buatan Iran diperkirakan bernilai sekitar 20.000 dolar AS. Untuk mencegatnya, Israel dapat menggunakan rudal Iron Dome yang bernilai sekitar 100.000 dolar AS atau rudal David’s Sling yang mencapai sekitar 1 juta dolar AS. Dalam kondisi tertentu, jet tempur F-35 juga dapat digunakan untuk melakukan intersepsi.

Situasi ini menunjukkan adanya ketimpangan biaya yang sangat besar. Iran mungkin tidak memiliki armada jet tempur generasi kelima dalam jumlah signifikan, tetapi memiliki kemampuan memproduksi rudal dan drone secara berkelanjutan. Strategi banjir rudal dan drone berbiaya rendah menjadi tantangan serius bagi sistem pertahanan yang mengandalkan teknologi mahal.

Pertanyaan yang relevan bagi Indonesia adalah sejauh mana kesiapan stok rudal, drone, dan amunisi nasional jika terjadi konflik berkepanjangan. Selain itu, apakah industri pertahanan dalam negeri mampu mempertahankan produksi secara terus-menerus ketika jalur logistik terganggu?

Perang = Pembakaran Uang Tunai
Amerika Serikat telah menggelontorkan bantuan militer bernilai miliaran dolar kepada Israel sejak 2023. Sementara itu, biaya operasional pertahanan Israel selama menghadapi serangan rudal juga sangat besar.

Perang modern pada dasarnya adalah pembakaran uang dalam jumlah luar biasa. Semakin lama konflik berlangsung, semakin besar tekanan terhadap anggaran negara.

Dalam konteks Indonesia, salah satu pos pengeluaran besar adalah subsidi energi. Jika terjadi lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik, beban subsidi dapat meningkat tajam dan berpotensi mengurangi ruang fiskal untuk sektor lain, termasuk pertahanan.

Dengan demikian, ketahanan fiskal menjadi bagian penting dari ketahanan nasional. Kekuatan pertahanan tidak hanya ditentukan oleh jumlah senjata, tetapi juga oleh kemampuan negara menjaga kesehatan anggaran dalam situasi krisis.

Pelajaran Bagi TNI: Jangan Hanya Menjadi Pembeli
Ukraina mampu bertahan dalam konflik berkepanjangan antara lain karena industri drone dan pertahanannya tetap beroperasi. Israel memiliki perusahaan pertahanan yang memproduksi sistem senjata strategis secara mandiri. Iran juga terus mengembangkan industri rudalnya meskipun menghadapi berbagai sanksi internasional.

Kesamaan dari ketiga negara tersebut adalah kemampuan memproduksi kebutuhan pertahanan sendiri.

Indonesia telah memiliki sejumlah industri strategis seperti PT Pindad, PT PAL Indonesia, dan PT Dirgantara Indonesia. Namun, berbagai komponen penting seperti sensor, chip, suku cadang tertentu, serta beberapa jenis amunisi masih bergantung pada impor.

Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah seberapa lama stok amunisi nasional dapat bertahan jika terjadi konflik berkepanjangan. Ketergantungan pada pasokan luar negeri dapat menjadi kerentanan strategis.

Karena itu, penguatan industri pertahanan nasional harus menjadi prioritas. Setiap pengadaan alutsista idealnya disertai transfer teknologi, peningkatan kemampuan produksi dalam negeri, dan keterlibatan industri nasional dalam proses perakitan maupun manufaktur.

Musuh Terbesar TNI Bukan Iran, Tetapi Keterbatasan Fiskal
Ancaman terhadap pertahanan nasional tidak selalu datang dalam bentuk rudal atau serangan militer langsung.

Kenaikan harga energi global, gangguan rantai pasok, atau tekanan terhadap APBN dapat memengaruhi kemampuan negara dalam membiayai pertahanan. Ketika ruang fiskal menyempit, program modernisasi alutsista, latihan militer, dan pengembangan teknologi berpotensi tertunda.

Dalam perspektif ini, stabilitas ekonomi dan pengelolaan anggaran yang sehat menjadi bagian penting dari strategi pertahanan nasional.

Ketahanan negara tidak hanya dibangun di pangkalan militer, tetapi juga di ruang perencanaan anggaran dan kebijakan ekonomi.

Penutup
Israel menunjukkan bahwa negara dengan teknologi maju dan industri pertahanan yang kuat dapat meningkatkan daya tahannya dalam menghadapi ancaman. Iran menunjukkan bahwa kemampuan produksi dalam negeri dapat menjadi faktor penting untuk bertahan di tengah tekanan dan keterbatasan.

Indonesia tidak menginginkan perang. Namun, kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan tetap perlu dibangun sejak dini.

Karena itu, fokus tidak hanya pada pembelian alutsista, tetapi juga pada pembangunan industri pertahanan nasional yang mandiri dan berkelanjutan. Kemampuan memproduksi kebutuhan strategis sendiri akan memberikan fleksibilitas dan daya tahan yang lebih besar dalam menghadapi situasi apa pun.

Pada akhirnya, menjaga perdamaian memang membutuhkan biaya. Namun, biaya yang harus dibayar akibat ketidaksiapan menghadapi ancaman dapat jauh lebih besar.(*)

Geopark Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat,Juni 2026

 

 

BERITA TERKINI

balon1
Mau Nonton Festival Balon Udara di Purwokerto? Catat Ini Tanggalnya
FULAD6
Rudal Vs Anggaran: Iron Dome Yang Paling Mahal Bukan di Langit
FAUZI MERAH
Guru, Berlututlah Sejenak: Ketika Bahasa Tubuh Menjadi Pelajaran Paling Berharga
empat karyawan
Rekening Dipakai Transaksi, Eks Karyawan Kedai Tuas Minta Perlindungan Hukum
lepas4
Diinisiasi Paguyuban Orang Tua Murid, 253 Lulusan SMPN 3 Purbalingga Dilepas