Oleh: Ākhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari
Kabupaten Purbalingga
PERNAHKAH Anda melihat seorang siswa berhenti sejenak di lampu merah, bukan untuk mengecek ponsel, melainkan membeli segelas es dawet atau sekantung kerupuk dari pedagang kaki lima? Atau mungkin, Anda sendiri pernah melakukannya: membeli bensin eceran di pinggir jalan meski SPBU hanya berjarak 500 meter di depan?
Suatu kali, penulis melakukan hal serupa. Saat ditanya rekan, “Kenapa beli bensin eceran? Kan SPBU dekat dan lebih murah?”, penulis hanya menjawab dengan tenang, “Mencoba menjadi jalan rezeki orang lain.”
Jawaban sederhana ini ternyata menyimpan pelajaran ekonomi dan sosial yang jauh lebih dalam daripada sekadar transaksi jual beli. Di era ketika anak-anak tumbuh dengan nilai efisiensi dan kecepatan, kita perlu mengajarkan satu hal yang tidak dapat dibeli dengan uang: empati terhadap perjuangan orang kecil.
Sebuah video viral menampilkan seorang wanita turun dari mobil mewah untuk membeli minuman dari pedagang pikulan di trotoar. Caption videonya sederhana, tetapi sangat mengena: “Mereka tidak mencari kekayaan, mereka hanya mencari nafkah untuk bertahan hidup.”
Bagi seorang pengusaha besar atau pemilik mobil mewah, uang Rp10.000 atau Rp 20.000 mungkin tidak berarti apa-apa. Bahkan, membeli di SPBU atau minimarket terasa lebih praktis dan hemat waktu. Namun, bagi pedagang eceran, keuntungan Rp2.000 dari penjualan bensin atau Rp5.000 dari penjualan es adalah nafkah hari itu. Uang tersebut bisa menjadi biaya membeli beras, membayar listrik, atau ongkos sekolah anak.
Ketika kita memilih membeli di tempat mereka, kita tidak sedang beramal. Kita sedang menghargai keringat mereka. Kita sedang mengatakan, “Saya melihat usahamu, dan saya menghormati cara kamu menghidupi keluargamu.”
Belajar Martabat dari Orang-Orang Kecil
Untuk memperkuat pemahaman ini, kita dapat merujuk pada buku Belajar Hidup dari Kehidupan Orang Kecil karya Aries Susanto. Buku tersebut mengangkat kisah-kisah inspiratif tentang ketegaran manusia di tengah keterbatasan.
Salah satu kisah yang paling menyentuh adalah Mbah Sukimin, penjual es dawet keliling yang telah memikul bronjongnya selama lebih dari 50 tahun. Di usia lebih dari 70 tahun, dengan kaki yang renta, ia tetap menyusuri jalanan Solo hingga belasan kilometer setiap hari.
Susanto (2011) menulis bahwa Mbah Sukimin telah menjadi saksi perubahan zaman. Ketika dunia bergerak dengan kendaraan bermotor, ia tetap melangkah dengan kekuatan kedua kakinya.
Penghasilannya mungkin hanya sekitar Rp20.000 setiap hari. Bagi sebagian orang jumlah itu sangat kecil, tetapi baginya itulah harga diri. Ia memilih terus bekerja demi memenuhi tanggung jawab sebagai kepala keluarga.
Susanto juga menggambarkannya sebagai sosok yang tahan uji, pantang menyerah, dan memiliki kepasrahan yang matang sebagai penjual es dawet keliling.
Kisah Mbah Sukimin dan pedagang eceran lainnya mengajarkan bahwa di balik dagangan bernilai beberapa ribu rupiah, terdapat martabat manusia yang sedang diperjuangkan dengan penuh kesungguhan.
Sekolah sebagai Ruang Menumbuhkan Empati
Di sekolah, kita sering mengajarkan matematika, sains, dan bahasa. Namun, bagaimana dengan kecerdasan empati?
Guru memiliki peran penting untuk menanamkan pemahaman bahwa dunia tidak hanya diisi pusat perbelanjaan modern dan supermarket. Ada pula ekosistem ekonomi rakyat yang hidup dari keuntungan tipis dengan volume penjualan yang tinggi.
Pertama, murid perlu memahami konsep keuntungan tipis dan kerja keras. Pedagang eceran memperoleh keuntungan sedikit dari setiap barang yang dijual sehingga mereka harus menjual dalam jumlah banyak untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ketika kita membeli dagangan mereka, kita membantu mempercepat perputaran ekonomi keluarga mereka.
Kedua, murid perlu belajar menghargai proses, bukan hanya hasil. Mereka boleh bercita-cita sukses dan kaya, tetapi juga harus menghormati setiap pekerjaan yang halal. Pedagang asongan, penjual bensin eceran, hingga pemulung adalah pahlawan ekonomi mikro yang menjaga roda kehidupan tetap berputar.
Ketiga, murid perlu memahami bahwa efisiensi tidak selalu menjadi pilihan terbaik. Membeli di SPBU memang lebih murah dan praktis. Namun, membeli di pedagang kecil merupakan investasi sosial yang membantu sesama. Guru dapat mengajak siswa berdiskusi, kapan harus memilih efisiensi dan kapan harus mengedepankan kemanusiaan.
Jawabannya sederhana. Ketika pilihan kita dapat membantu orang lain tanpa merugikan diri sendiri secara berarti, maka kemanusiaan layak didahulukan.
Menormalisasi Membeli dari Pedagang Kecil
Generasi muda perlu memahami bahwa perekonomian bangsa tidak hanya ditopang korporasi besar. Ekonomi rakyat merupakan penyangga utama ketahanan masyarakat.
Ketika kelas menengah berbelanja di sektor informal, uang yang sebelumnya tersimpan akan mengalir kepada pekerja kecil. Selanjutnya, uang tersebut digunakan untuk membeli kebutuhan pokok sehingga menggerakkan petani, pedagang pasar, dan produsen lokal lainnya.
Inilah siklus keberkahan yang sesungguhnya. Dengan membeli dagangan mereka, kita ikut membangun jaring pengaman sosial secara alami. Kita membantu mencegah mereka jatuh ke jurang kemiskinan melalui tindakan sederhana: mampir dan membeli.
Kepada para pendidik dan orang tua, mari menjadikan perjalanan sehari-hari sebagai laboratorium karakter. Saat melewati pedagang asongan, jangan hanya memberi uang receh sebagai sedekah, meskipun itu baik. Ajaklah anak untuk bertransaksi secara langsung.
Biarkan mereka menatap mata penjual, merasakan interaksi sederhana, dan memahami bahwa ada manusia di balik setiap dagangan yang sedang berjuang, sebagaimana Mbah Sukimin yang terus melangkah meski zaman berubah. (*)