BANYUMAS, EDUKATOR–Teknologi drone tak lagi sekadar digunakan untuk mengambil foto dari udara. Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) kini mendorong BUMDes “Unggul Bahtera” Desa Babakan, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, memanfaatkannya sebagai layanan produktif untuk memetakan lahan pertanian, memantau jaringan irigasi dan drainase, hingga membuka peluang pendapatan baru bagi desa.
Program tersebut dilaksanakan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat skema Penerapan Iptek di Balai Desa Babakan, Rabu (12/8/2026).. Kegiatan juga ditandai dengan penyerahan paket teknologi berupa drone yang selanjutnya dapat dimanfaatkan dan dikembangkan melalui BUMDes.
Tim pengabdian terdiri atas Dr. Setya Permana Sutisna, S.TP., M.Si., Dr. Ir. Irawadi, CES., dan Afik Hardanto, Ph.D. Pelatihan tidak hanya memperkenalkan cara menerbangkan drone, tetapi juga membekali peserta dengan kemampuan mengolah foto udara menjadi data dan informasi yang dapat mendukung kebutuhan pembangunan desa.
“Drone diharapkan menjadi aset produktif yang menghasilkan data, layanan, dan peluang pendapatan bagi desa,” ujar Dr. Setya Permana Sutisna.
Dari Menerbangkan Drone hingga Membuat Peta
Kegiatan tersebut mendapat sambutan Kepala Desa Babakan, Sonhaji. Ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada tim Unsoed atas pelaksanaan program yang dinilai membuka peluang baru bagi masyarakat.
Menurut Sonhaji, teknologi drone dapat meningkatkan kemampuan desa dalam memperoleh informasi wilayah secara lebih cepat dan akurat. Selain itu, perangkat tersebut juga berpotensi dikembangkan menjadi layanan berbasis teknologi melalui BUMDes “Unggul Bahtera”.
Dalam pelatihan, peserta diperkenalkan dengan berbagai aspek dasar pengoperasian drone. Materi mencakup pengenalan komponen, fungsi remote controller dan joystick, mode penerbangan, serta fitur utama perangkat.
Peserta juga dibekali pengetahuan mengenai persiapan sebelum penerbangan atau pre-flight check. Pemeriksaan meliputi kondisi perangkat, baterai, sistem, lokasi penerbangan, hingga kondisi cuaca.
Dr. Setya, yang juga anggota Perhimpunan Ahli Teknik Pertanian Indonesia, menjelaskan bahwa aspek keselamatan menjadi bagian penting dalam pelatihan.
Peserta diperkenalkan dengan penggunaan Home Point, Return to Home (RTH), kawasan yang tidak boleh dilintasi, keberadaan pesawat atau helikopter, perlindungan privasi, serta prinsip Visual Line of Sight (VLOS).
Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan praktik penerbangan dasar, mulai dari take-off, hover, gerakan naik dan turun, maju dan mundur, pergerakan ke kiri dan kanan, yaw, penggunaan RTH, hingga pendaratan. Peserta juga mempelajari pengelolaan baterai, pemeriksaan setelah penerbangan, penyimpanan, serta perawatan perangkat.
Foto Udara Diolah Menjadi Data Desa
Setelah memahami teknik pengoperasian, peserta mempelajari pemanfaatan drone untuk pemetaan. Materi meliputi perencanaan pengambilan foto udara, penentuan cakupan wilayah, pengaturan kualitas foto, hingga pengaturan tumpang tindih atau overlap antar-foto.
Data yang diperoleh kemudian diperkenalkan untuk diolah menggunakan perangkat lunak Agisoft. Tahapannya meliputi image alignment, pembentukan point cloud, pembuatan DSM/DEM, hingga menghasilkan ortomosaik.
Hasil pengolahan tersebut selanjutnya dapat dikembangkan menggunakan QGIS. Peserta diperkenalkan pada pengaturan sistem koordinat, pemasukan ortofoto, digitasi objek seperti jalan, bangunan, lahan, dan saluran, pemberian atribut, hingga penyusunan peta dasar.
“Dari foto udara menjadi peta, dari peta menjadi informasi, lalu menjadi dasar pengambilan keputusan,” kata Dr. Setya.
Memantau Irigasi dan Drainase dari Udara
Pemanfaatan drone juga diarahkan untuk mendukung evaluasi sistem irigasi dan drainase pertanian. Foto vertikal dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai jaringan saluran, sedangkan foto miring dan video inspeksi membantu melihat kondisi fisik secara lebih rinci.
Melalui data tersebut, desa dapat mengidentifikasi saluran, pintu air, bangunan pembagi, gorong-gorong, serta berbagai persoalan di lapangan. Di antaranya sedimentasi, kerusakan saluran, vegetasi yang menghambat aliran, penyumbatan, hingga titik-titik genangan.
Hasil identifikasi itu selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan untuk menentukan lokasi dan prioritas pemeliharaan maupun perbaikan infrastruktur pertanian.
Penyerahan drone menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut. Perangkat itu diharapkan menjadi modal awal bagi Desa Babakan untuk membangun kemampuan lokal dalam mengoperasikan, merawat, serta mengolah data hasil penerbangan.
BUMDes Siapkan Layanan Berbasis Teknologi
Melalui konsep BUMDes Drone Service, Unsoed mendorong agar drone tidak berhenti sebagai alat dokumentasi. Teknologi tersebut dapat dikembangkan menjadi layanan yang memberikan manfaat sekaligus nilai ekonomi bagi desa.
Layanan yang berpotensi dikembangkan antara lain pemetaan lahan pertanian, inspeksi irigasi dan drainase, dokumentasi pembangunan, pembuatan profil desa, serta dokumentasi dan promosi berbagai potensi lokal.
Dengan pelatihan dan dukungan perangkat teknologi tersebut, BUMDes “Unggul Bahtera” diharapkan mampu mengembangkan layanan drone secara mandiri dan berkelanjutan.
“Desa Babakan kini memiliki modal awal untuk membangun kapasitas lokal dan mengembangkan layanan drone melalui BUMDes,” ujar Dr. Setya.
Program ini sekaligus menjadi upaya Unsoed dalam mendorong pembangunan desa berbasis data, dengan memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan informasi yang dapat digunakan dalam perencanaan, pengambilan keputusan, serta pengembangan layanan produktif bagi masyarakat. (Alief Einstein/Prs)