Grand Strategi: Pakistan dan Turki dalam Incaran Israel Berikutnya?

Bagikan :

Oleh: Mayor Jenderal TNI (Purn) Fulad, S.Sos, M.Si
Penasihat Militer Republik Indonesia untuk PBB (2017–2019)

DUNIA baru saja menyaksikan babak dramatis dalam konflik Timur Tengah modern. Iran, yang selama lebih dari empat dekade menjadi “musuh utama” Israel dan negara-negara Barat, akhirnya menjadi sasaran serangan besar-besaran. Serangan tersebut, dengan dukungan penuh Amerika Serikat, menghancurkan sebagian infrastruktur militer strategis Iran.

Sebagian pihak di dunia internasional menyambut peristiwa ini dengan optimisme. Mereka meyakini ketegangan akan mereda dan kawasan Timur Tengah menjadi lebih stabil.

Namun, sebagai mantan penasihat militer Indonesia di Dewan Keamanan PBB, saya memiliki pandangan berbeda. Ini bukan akhir dari konflik, melainkan awal dari babak baru yang lebih kompleks dan berbahaya.

Dalam strategi militer, terdapat prinsip penting: jangan hanya melihat apa yang dikatakan, tetapi amati pergerakannya. Saat ini, meskipun konflik di Iran belum sepenuhnya mereda, arah langkah Israel mulai terlihat. Mereka diduga telah menyiapkan strategi lanjutan.

Target berikutnya diperkirakan bukan lagi kelompok seperti Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, atau milisi pro-Iran di Suriah dan Yaman. Perhatian kini mengarah pada dua negara besar yang memiliki pengaruh kuat di kawasan, yaitu Pakistan dan Turki.

Meski demikian, pendekatan yang digunakan bukanlah invasi militer langsung. Israel diperkirakan tidak akan mengerahkan pasukan secara terbuka, melainkan menggunakan strategi yang lebih halus, yakni invasi proksi.

Memahami Konsep Invasi Proksi
Invasi proksi merupakan strategi menyerang suatu negara tanpa keterlibatan langsung pasukan nasional. Pendekatan ini dilakukan melalui dukungan kepada pihak ketiga, seperti sekutu regional, kelompok tertentu, maupun melalui perang ekonomi, siber, dan intelijen.

Strategi ini bukan hal baru. Selama lebih dari dua dekade, pola serupa terlihat dalam dinamika konflik antara Israel dan Iran. Bentuknya meliputi dukungan terhadap oposisi, serangan siber, hingga operasi intelijen.

Pola tersebut kini dinilai berpotensi diterapkan terhadap Pakistan dan Turki, dengan skala yang lebih besar mengingat kapasitas kedua negara tersebut.

Pakistan di Tengah Tekanan Dua Arah
Pakistan menjadi salah satu negara yang dinilai paling rentan. Selain memiliki posisi strategis, Pakistan juga dikenal sebagai negara Muslim yang memiliki kemampuan nuklir.

Tekanan terhadap Pakistan diperkirakan datang dari dua arah. Di sisi timur, hubungan militer antara Israel dan India semakin erat. India diketahui memperkuat sistem pertahanannya melalui kerja sama teknologi militer dengan Israel.

Di sisi barat, situasi keamanan juga belum stabil. Kelompok seperti Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP) dan Balochistan Liberation Army (BLA) masih aktif melakukan serangan di wilayah tersebut.

Kondisi ini membuat Pakistan menghadapi tekanan berlapis yang dapat menguras sumber daya militer dan ekonomi.

Turki dan Dinamika Kawasan
Sementara itu, Turki menghadapi tekanan dalam konteks geopolitik yang berbeda. Sebagai negara dengan pengaruh besar di kawasan dan anggota NATO, posisi Turki sangat strategis.

Di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan, Turki menjadi salah satu negara yang vokal dalam isu Palestina. Sikap ini menempatkan Turki dalam dinamika hubungan yang kompleks dengan Israel dan sekutunya.

Di kawasan Laut Tengah, kerja sama antara Israel dengan Yunani dan Siprus dinilai dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan regional. Selain itu, dinamika politik domestik Turki juga menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan negara tersebut.

Munculnya Poros Kerja Sama Baru
Di tengah tekanan tersebut, muncul kecenderungan peningkatan kerja sama antara beberapa negara di kawasan, seperti Pakistan, Turki, Arab Saudi, dan Mesir.

Keempat negara ini memiliki keunggulan masing-masing, baik dari sisi militer, ekonomi, maupun geopolitik. Kolaborasi tersebut berpotensi menciptakan keseimbangan baru dalam percaturan global.

Selain itu, negara-negara ini juga mulai memainkan peran dalam diplomasi internasional, termasuk dalam upaya mencari solusi konflik Palestina.

Kepentingan Indonesia
Situasi ini juga memiliki implikasi bagi Indonesia. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan peran aktif dalam diplomasi internasional, Indonesia tidak dapat mengabaikan dinamika tersebut.

Perubahan keseimbangan kekuatan global dapat berdampak pada stabilitas kawasan dan kepentingan nasional Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan kewaspadaan serta langkah diplomasi yang tepat.

Penguatan hubungan internasional, kerja sama pertahanan, serta peran aktif di forum global seperti PBB dan OKI menjadi penting dalam menghadapi dinamika ini.

Penutup
Tulisan ini merupakan analisis strategis berdasarkan pengalaman dan pengamatan terhadap perkembangan geopolitik global. Perubahan yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa dinamika konflik tidak pernah benar-benar berhenti, melainkan terus bertransformasi.

Pakistan dan Turki menjadi dua negara yang patut diperhatikan dalam perkembangan selanjutnya. Keduanya memiliki posisi strategis yang berpotensi memengaruhi arah konflik di masa depan.

Bagi Indonesia, sikap yang bijak, waspada, dan aktif dalam diplomasi menjadi kunci untuk menjaga kepentingan nasional di tengah perubahan global.(*)

Cisaranten – Bandung, 23 April 2026

BERITA TERKINI

Kepala-sekolah
Bupati Banyumas Kukuhkan 146 Guru Jadi Kepala Sekolah
FULAD2
Grand Strategi: Pakistan dan Turki dalam Incaran Israel Berikutnya?
FULAD6
Hormuz Terbakar, Malaka Dihantam: Kapal Induk AS di Depan Mata, Indonesia Bisa Apa?
balai1
Balai Bahasa Jateng Susun Bahan Ajar untuk Bimtek Guru Utama
pameran djentot
Djentot Subechi akan Gelar Pameran Fotografi "Monokrom"