*Hadirkan Dr. Irene Kartika Eka Wijayanti, S.P., M.P

Narasumber Dr. Irene Kartika Eka Wijayanti, S.P., M.P., foto bersama peserta pelatihan di Balai Desa Karangreja, Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap, Jumat (23/10/2026).
CILACAP, EDUKATOR– Warga Desa Karangreja, Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap, dilatih mengolah singkong menjadi tepung Modified Cassava Flour (Mocaf) serta enam produk pangan, yakni cookies, muffin, cupcake, brownies, egg roll, dan mi. Pelatihan yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) tersebut bekerja sama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Cilacap, Jumat (23/10/2026) di Balai Desa Karangreja.
Pelatihan itu bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah singkong, memperluas peluang usaha UMKM, dan memperkuat kelembagaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karangreja.
Pelatihan menghadirkan Dr. Irene Kartika Eka Wijayanti, S.P., M.P., dosen Fakultas Pertanian Unsoed. Kegiatan ini melibatkan petani singkong, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Makmur, serta sejumlah kepala dusun di Desa Karangreja.
Dosen Fakultas Pertanian Unsoed Dr. Irene Kartika Eka Wijayanti, S.P., M.P. (paling kiri) pada mengolah singkong menjadi tepung Modified Cassava Flour (Mocaf) di Desa Karangreja, Kecamatan Cipari, Cilacap.
Mocaf Jadi Alternatif Peningkatan Nilai Singkong
Dalam paparannya, Irene Kartika Wijayanti menjelaskan bahwa singkong perlu diolah karena umbi segar memiliki daya simpan terbatas, mutunya cepat menurun setelah panen, dan harganya berfluktuasi. Jika hanya dijual sebagai bahan mentah, petani belum memperoleh nilai tambah maksimal dari hasil panennya.
Salah satu alternatifnya ialah mengolah singkong menjadi Mocaf, yaitu tepung singkong yang dimodifikasi, umumnya melalui proses fermentasi. Aktivitas mikroorganisme selama proses tersebut memengaruhi karakteristik tepung yang dihasilkan.
Mocaf dapat digunakan sebagai bahan dasar atau pengganti sebagian tepung terigu dalam berbagai produk pangan. Berbeda dengan terigu yang mengandung gluten, yaitu protein yang membantu membentuk tekstur elastis pada adonan, tepung Mocaf secara alami tidak mengandung gluten.
“Mocaf dapat digunakan sebagai bahan dasar atau pengganti sebagian tepung terigu dalam berbagai produk pangan. Namun, produk olahan Mocaf baru dapat dinyatakan bebas gluten jika bahan dan proses produksinya terhindar dari kontaminasi gluten,” ujarnya.
Gluten merupakan protein yang secara alami terdapat dalam gandum, termasuk bahan baku tepung terigu. Protein ini berperan membentuk struktur dan elastisitas adonan, terutama pada produk seperti roti dan mi.
Karena tidak mengandung gluten secara alami, Mocaf dapat menjadi alternatif bagi orang yang perlu menghindari protein tersebut. Meski demikian, produk yang masih menggunakan terigu atau mengalami kontaminasi silang tidak otomatis bebas gluten.
Suasana pelatihan mengolah singkong menjadi tepung Modified Cassava Flour (Mocaf) serta enam produk pangan, yakni cookies, muffin, cupcake, brownies, egg roll, dan mi.
Ajarkan Produksi dan Diversifikasi Produk
Materi pelatihan mencakup tahapan produksi Mocaf, mulai dari pemilihan singkong segar, persiapan bahan dan peralatan, fermentasi, pengeringan, penepungan, pengayakan, hingga pengemasan.
Dalam presentasinya, Irene Kartika Wijayanti juga menjelaskan penggunaan starter Bimo CF dengan takaran satu gram untuk setiap satu kilogram singkong, serta fermentasi selama dua malam.
Aspek kebersihan dan keamanan pangan turut menjadi perhatian. Singkong yang busuk atau berjamur tidak boleh digunakan sebagai bahan pangan. Peserta juga diarahkan menjaga kebersihan alat, tangan, air, dan area kerja serta menggunakan kemasan yang melindungi tepung dari kelembapan.
Selain memproduksi tepung, peserta diperkenalkan dengan enam jenis produk olahan Mocaf, yakni cookies, muffin, cupcake, brownies, egg roll, dan mi. Presentasi juga memuat contoh resep brownies Mocaf panggang beserta takaran bahan dan tahapan pembuatannya.
Penggunaan Mocaf dalam berbagai produk perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing makanan. Karena tidak memiliki gluten seperti terigu, penggantian terigu dengan Mocaf dapat memengaruhi elastisitas adonan, struktur, dan tekstur produk akhir.
Diversifikasi tersebut diharapkan membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan produk pangan berbasis bahan baku lokal yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Manajemen Biaya hingga Strategi Pemasaran
Pelatihan tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis. Irene Kartika Wijayanti juga memaparkan pentingnya manajemen agribisnis, mulai dari pengelolaan bahan baku, penghitungan biaya produksi, penentuan harga jual, pengemasan, hingga pemasaran.
Dalam simulasi perhitungan usaha yang tercantum pada presentasi, sebanyak 100 kilogram singkong diasumsikan menghasilkan 24 kilogram Mocaf layak jual. Jika seluruh hasil terjual dengan harga Rp30.000 per kilogram, penerimaan kotor yang diperoleh mencapai Rp 720.000 per proses produksi.
Angka tersebut merupakan simulasi penerimaan penjualan, bukan keuntungan bersih. “Perhitungan keuntungan tetap harus memperhitungkan biaya bahan baku, tenaga kerja, energi, kemasan, dan biaya produksi lainnya,” jelas Irene Kartika Wijayanti.
Peserta juga diarahkan mencatat berat bahan, waktu dan suhu pengolahan, jumlah produk layak jual, karakteristik mutu, serta biaya setiap proses produksi. Pencatatan ini penting untuk mengevaluasi kualitas produk dan menghitung harga pokok produksi secara lebih akurat.
Perkuat Kemitraan Petani dan UMKM
Paparan Irene Kartika Wijayanti turut menekankan pentingnya kolaborasi antara petani singkong, pelaku UMKM, pengurus BUMDes, dan pemerintah desa. Kerja sama diperlukan untuk menyelaraskan mutu bahan baku, jumlah pasokan, jadwal penyediaan, dan harga.
Petani berperan menyediakan singkong berkualitas, sedangkan UMKM mengembangkan produk olahan dan memasarkannya. Pembagian peran dalam rantai usaha juga mencakup penyortiran, pengolahan, pengemasan, dan pemasaran.
Melalui pelatihan ini, pengembangan agribisnis singkong di Desa Karangreja diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penyuluhan. Penerapan teknik produksi secara konsisten, pencatatan hasil, evaluasi mutu, inovasi produk, dan perluasan pasar menjadi langkah penting untuk memperkuat usaha berbasis potensi lokal.
Kolaborasi petani, UMKM, BUMDes, dan pemerintah desa diharapkan mampu membangun rantai nilai singkong yang saling mendukung sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat. (Prasetiyo)